PENANGANAN DAN SIKAP MEDIK TERHADAP KANKER PAYUDARA  


Penanganan dokter medik terhadap kanker payudara di Amerika Serikat (dan mungkin  juga di luar Amerika Serikat) merupakan penanganan terstandarisasi, terprogram, dan berkelanjutan dalam jangka panjang.  Penanganan yang kami maksudkan di sini adalah penanganan oleh dokter medik setelah terdiagnosa positif mengidap kanker payudara, atau dengan kata lain tidak tentang berbagai tes laboratorik untuk mendiagnosa kanker payudara.

Berikut ini adalah beberapa pencerahan  dari Robert Lee, M.D., ahli kanker Amerika Serikat tentang penanganan medik. Beliau mengatakan bahwa mengapa tidak ada satu obat tunggal yang dapat menyembuhkan kanker payudara, karena kanker payudara tersebut jarang sekali disebabkan oleh satu penyebab tunggal.

Tulisan asli

There’s a bizarre, almost surreal refusal in American medicine to admit that we pretty much know what causes cancer and how to prevent it. Cancer specialists, called oncologists, continue to “slash, poison, and burn“ (as breast surgeon and author Susan Love, M.D., so aptly termed surgery, chemoteraphy, and radiation treatments  for breast cancer), even though they know that, in the end, the treatments are unlikely to make much possitive difference in the lives of the patients.  (p. xvii)

Terjemahan

Adalah suatu keanehan, hampir merupakan penolakan nyata di kedokteran Amerika untuk  mengakui bahwa kita sangat mengetahui apa yang menyebabkan kanker dan bagaimana mencegah kanker. Para ahli kanker yang dinamakan onkologis terus “menyayat, meracuni, dan membakar“  (seperti kata ahli bedah payudara dan pengarang Susan Love, M.D., dengan begitu tepat mengistilahkan penanganan-penanganan dengan cara pembedahan, kemoterapi, dan radiasi untuk kanker payudara), meski pun mereka tahu itu, pada akhirnya, penanganan-penanganan tersebut kelihatannya tidak dapat membuat banyak perubahan positif dalam kehidupan para pasien. 

Tulisan asli

Other than the possibility of healing a patient facing expensive and harmful medical treatments, there’s no advantage of benefit for a physician to go outside the established norms in treating cancer of any kind. In fact, punishment is severe and could mean lawsuits, as well as permanent loss of a job and/or license. No wonder physicians are afraid of new approaches to healing cancer. There’s legislation pending in California giving patients and doctors the legal right to try alternative approaches to treating cancer. Isn’t it a little frightening that in the United States of America we have to fight the medical establishment by making laws that give us the freedom to get medical treatment be our right in democracy ?   (p. xvii)

Terjemahan

Diluar  kemungkinan pemulihan seorang pasien yang menghadapi penanganan-penanganan medik yang mahal dan berbahaya, tidak ada manfaat keuntungan bagi seorang dokter untuk melakukan penanganan di luar norma-norma yang telah dibuat di dalam menangani kanker dalam bentuk apa pun. Dalam kenyataannya, hukumannya berat dan dapat berarti tuntutan hukum, juga kehilangan permanen pekerjaan dan/atau lisensi. Tidak perduli para dokter takut terhadap pendekatan-pendekatan baru terhadap pemulihan kanker. Ada penundaan  legislasi di California yang memberikan para pasien dan para dokter hak hukum untuk mencoba pendekatan-pendekatan alternatif terhadap penanganan kanker. Bukankah sedikit menakutkan bahwa di Amerika Serikat kita harus berjuang melawan kemapaman medik dengan membuat undang-undang yang memberikan kita kebebasan untuk mendapatkan penanganan-penanganan medik yang menjadi hak kita di dalam demokrasi?

Tulisan asli

Women who opt not to use radiation and chemoterapy to treat their breast cancer will often face intense resistance from their medical community, who will tell them that if they don’t do what the doctor tells them, they will die. Knowing what we do about how powerful the mind-body connection is, and how strong the power of suggestion is (especially coming from a physician), this type of mistreatment should be considered malpractice. There’s no excuse for such behavior coming from any health care professional. We have received many heartbreaking letters with this type of story, and they only serve to underscore how conventional medicine desperately needs to make fundamental changes in how patients are perceived and treated. (p. xviii)

Terjemahan

Wanita-wanita yang memilih tidak menggunakan radiasi dan kemoterapi untuk menangani kanker payudara mereka akan sering menghadapi penolakan yang kuat dari komunitas medik mereka, yang akan memberitahukan mereka bahwa jika mereka tidak melakukan apa yang dikatakan dokter kepada mereka, mereka akan mati. Dengan mengetahui betapa kuatnya Hubungan Pikiran-Tubuh, dan bagaimana kuatnya kekuatan anjuran  (khususnya yang datang dari seorang dokter), perlakuan yang salah seperti ini seharusnya dianggap sebagai tindakan malpraktek. Tidak ada ampun bagi prilaku seperti itu yang datang dari professional pelayanan kesehatan mana pun.  Kita telah menerima banyak surat yang membuat hati miris karena cerita sperti ini, dan mereka hanya melayani untuk menekankan bagaimana kedokteran konvensional dengan putus asa perlu membuat perubahan-perubahan tentang bagaimana para pasien diperhatikan dan ditangani.  

Penanganan medik oleh dokter medik di Amerika Serikat terhadap kanker payudara adalah:

  1. Operasi pengangkatan tumor kanker atau pengangkatan payudara 
    Para dokter akan terus melakukan tindakan pengangkatan payudara dan memberikan obat-obatan beracun karena mereka tidak tahu apa lagi yang dapat dilakukan, dan mereka merasa bahwa mereka harus melakukan sesuatu (dokter Robert Lee).

  2. Radiasi atau penggunaan sinar tingkat tinggi yang ditembakkan ke sasaran tertentu di payudara melalui jaringan-jaringan payudara yang lain.

  3. Kemoterapi atau penggunaan beragam jenis obat-obatan kimia untuk meracuni sel-sel kanker dengan meninggalkan berbagai efek terhadap sel-sel tubuh yang sehat.

Penanganan ini dilakukan oleh medik konvensional di Amerika Serikat, dan penanganan ini juga dilakukan di Indonesia.  

HUBUNGAN DOKTER DENGAN PASIEN 

Dalam hubungan antara dokter dengan pasien, beliau menulis.

Tulisan asli

Dr. Lee often says in his talks that doctors seem to think that M.D. stand for “Minor Deity“, and the usual audience response is loud applause. Patients are to do as they’re told and not question the physician’s decision. If a woman follows her doctor’s orders and then complains that she doesn’t feel well as a result, she’s made to feel as if it is her fault, or that it‘ all in her head, and she gets a prescription for a sedative or an antidepressant. (Hal. xix)

Terjemahan

Dr. Lee sering berkata di dalam perbincangan-perbincangannya bahwa para dokter kelihatannya  mengira bahwa  M.D. memiliki arti “Minor Deity“ (Dewa Kecil), dan respons para pendengar biasanya memberikan sambutan yang  meriah. Para pasien harus melakukan seperti apa yang telah dikatakan kepada mereka dan tidak mempertanyakan  keputusan dokter. Jika seorang wanita mengikuti perintah-perintah dokternya dan kemudian mengeluh bahwa ia merasa tidak enak sebagai akibatnya, ia akan dibuat untuk merasa seolah-olah keluhan rasa tidak enak tersebut merupakan kesalahannya, atau keluhan rasa tidak enak tersebut hanya di dalam pikirannya saja, dan ia diberikan  resep obat penghilang rasa sakit atau obat penenang. 

Tulisan asli

It‘s essential that if you have breast cancers, you work with a health care professional who listens and genuinely cares. This is much more challenging and time consuming than passively accepting whatever comes along, but the long-term rewards are clearly better health and longer life.  (page xix) 

Terjemahan

Penting bahwa jika anda menderita kanker payudara, anda bekerjasama dengan professional pelayanan medik yang mendengar dan peduli dengan hati tulus. Hal ini lebih menantang dan membutuhkan banyak waktu daripada secara pasif menerima apapun yang diprogramkan, tetapi hasil-hasil jangka panjang secara nyata menciptakan kesehatan yang lebih baik dan umur panjang. (hal. xix)


Sumber:
Buku What  Your Doctor May Not Tell You About Breast Cancer, oleh Robert Lee, M.D., et al..  Warner Books, 1st Mass Printing, New York, 2005.